Senin, 21 Maret 2011

Hemodialisa sejak berumur 18 thn - female


IKHLAS DUA KALI SE-MINGGU
                                   
.


Tidak ada seorang pun yang menginginkan hal ini, baik tua-muda, remaja maupun anak-anak. Atas kehendak-Nya saja yang dapat membuat segala hal terjadi tak terkecuali  sebuah penyakit. Seorang yang hidup dalam benteng kuat anti virus berbahaya sekali pun, jika Tuhan telah berkehendak, maka manusia pun tak dapat mengelaknya.


 Bermula dari alergi saat sedang menikmati masa-masa remaja, saat itu libur akhir semester kelas dua sekolah tingkat tinggi pada tahun 2003. Alergi itu seing muncul di sekitar mata kaki atau jari-jari tangan.

              Namun alergi yang sering menyerang sejak kecil itu, semakin menjalar dan sampai ke pembuluh darah, entah mengapa saat itu  tidak dapat memahami betapa bahayanya alergi dalam darah sehingga virus yang meradangkan pembuluh darah kini hinggap di organ ginjal. Daya tahan tubuh pun mulai menurun,  mengeluarkan biaya dan bermalam di rumah sakit menjadi langganan tiap tahunnya.


Empat tahun telah disia-siakan, dokter spesial ginjal yang sekarang telah jadi profesor ginjal se-Indonesia sudah meminta untuk terus meminum obat radang pembuluh darah yang mana obat itu sungguh membuat masa remaja terasa malu, sebab efek obat itu menumpukkan cairan di kepala (moon face). 

Sempat kesal pada diri, andai saja tahu jika masa di mana seorang yang sedang beranjak dewasa dengan penuh kreatifitas dan aktifitas layaknya mahasiswi sukses dengan penuh masa depan yang menjamin, terutama dalam berkeluarga. Namun kini hanya dapat menjalani setengah aktifitas, karena untuk mempertahankan hidup dengan menyisipkan dua kali tiap minggu untuk membersihkan darah yang kotor dalam mesin pencuci sebagai alat pengganti kerja ginjal, di salah satu rumah swasta sakit Jakarta.

Walau terbaring di ranjang empuk dengan ruangan dingin serta dilengkapi layar televisi, namun rasa sakit pastinya ada tiap dua kali jarum suntik seperti jarum kasur itu menusuk kulit tangan yang tipis ini, dan menembus aliran darah yang keluar dan yang masuk jantung. Kemudian darah yang kotor dibersihkan oleh mesin alat pengganti ginjal (mesin hemodialisa), yang konon harga mesin ini seharga kapal laut dan hanya perawat atau ahlinya  yang dapat mengoperasikan.

Tak jarang tekanan darah dalam tubuh mengamuk, naik-turun dengan cepat dan drastis, serta perasaan yang tak menentu menjadi santapan tiap dua kali se-minggu. Hanya dengan ini racun yang semana mestinya keluar melalui air seni  dapat menghilang dari dalam darah. Begitu juga nutrisi yang menjadi asupan darah, secara otomatis terbawa keluar, maka tak heran setelah lima jam waktu lamanya mencuci darah di mesin ini sering merasakan berbagai keluhan tak menentu.

Perlu istirahat yang cukup untuk menormalkan tiap dua kali seminggu ini. Kadang waktu yang dipergunakan sebaik mungkin untuk melakukan aktifitas, harus direlakan terbengkalai. Bila pencucian mulai setelah menjalani perintah-Nya di kala Zuhur, dan selesai tepat di kala Magrib, maka di kala Subuh atau kadang Zuhur berikutnya, tubuh ini dapat normal kembali.

Sudah hampir tiga tahun ginjal tak lagi bekerja sebagai fungsinya. Entah sampai kapan, dokter berkata pun tidak apalagi menentukan kapan ginjal berfungsi kembali. Hanya saran-saran untuk mempertahankan hidup saja yang bisa didapat, termasuk transplasi ginjal yang harganya milyaran rupiah, belum lagi pendonor yang belum tahu dari mana didapat. Hal ini yang mungkin membuat seorang berpikir macam-macam, tidak ada keoptimisan dalam hidup.

Namun syukur pada-Nya, iman, taqwa, dan tawaqal dijaga oleh-Nya, keikhalasan muncul ditengah-tengah perjuangan, ayah dan ibu. Begitu juga di rumah sakit, fasilitas yang dijamin pembayaran dari kantor ayah serta dorongan moril dari suster dan dokter. Segala puji syukur kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa, hingga kini merasa sudah seperti normal layaknya mahasiswi. 

Tidak perlu berharap banyak, sungguh dengan kenikmatan hidup yang ada itu seharusnya sudah melebihi cukup untuk hidup di dunia yang sementara. Allah yaitu Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang tidak semata-mata menakdirkan jalan seseorang di hidupnya. Dengan terus belajar ikhlas segala hal berat, pilu dan perih apapun akan terasa ringan, tenang dan indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar